KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan, berkat dan
hidayah-Nya sehingga laporan Praktikum Pemuliaan Pohon ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Laporan
Praktikum Pemuliaan Pohon ini dimaksudkan untuk memberitahukan hasil praktikum
yang telah dilakukan di PT. Surya Hutani Jaya, pada hari Senin, 3 Mei 2010.
Materi yang tersaji dalam laporan ini berdasarkan materi yang telah di dapatkan
selama kuliah di kelas.
Akhir
kata, kami mohon maaf apabila dalam penyampaian isi dari laporan ini masih
terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
sangat diharapkan untuk perbaikan selanjutnya. Harapannya semoga laporan ini
bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi para mahasiswa. Amin
Samarinda, Mei 2010
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... (i)
DAFTAR ISI..................................................................................................................... (ii)
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1
1.1
Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2
Tujuan Praktikum.......................................................................................... 3
Bab II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................ 4
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM
...............................................................23
3.1
Lokasi dan Waktu Praktikum ........................................................
23
3.2
Alat dan Bahan .............................................................................
23
3.3
Prosedur Praktikum .......................................................................
24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................... 25
BAB V PENUTUP
...........................................................................................
31
5.1
Kesimpulan.................................................................................................... 31
5.2
Saran............................................................................................................... 32
Daftas Pustaka............................................................................................................ 33
LAMPIRAN
....................................................................................................
34
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan adalah
suatu ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan. Dalam memanfaatkan hutan yang merupakan sumber
daya alam yang dapat diperbarui memerlukan sistem pengelolaan hutan yang
bijaksana salah satunya ialah dengan menetapkan prinsip kelestarian. Untuk
mencapai tujuan tersebut maka pemahaman tentang hutan sebagai suatu masyarakat
tumbuh-tumbuhan perlu dihayati serta dipahami oleh semua insan yang
memanfaatkan hutan demi kehidupannya melalui penguasaan ilmu dan seni serta
teknologi hutan dan kehutanan.
Hutan
mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, sejak manusia lahir sampai
mati masuk ke liang kubur manusia memerlukan produk yang dihasilkan dari hutan.
Hutan memberikan perlindungan dan naungan dan produk-produk yang dibutuhkan
manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Seiring populasi
dunia semakin berkembang, manusia semakin modern sehingga kebutuhan hasil hutan
semakin meningkat. Sementara itu luas hutan kian menjadi sempit antara lain
diakibatkan dari pembukaan hutan untuk kepentingan pertanian, perkebunan,
pemukiman dan keperluan pembangunan lainnya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain
untuk memenuhi kebutuhan hasil hutan yang makin meningkat produktivitas hutan
dengan penerapan sistem sivikultur intensif serta melakukan pemuliaan pohon
hutan secara mantap.
Pemuliaan
Pohon Hutan, “Forest Tree Breeding” ialah penerapan asas-asas genetika pada
penanaman hutan untuk memperoleh pohon-pohon yang memiliki sifat dan hasil yang
lebih tinggi nilainya (Soerianegara, 1979).
Dalam alam,
terjadi seleksi alam yang menghasilkan pohon-pohon yang paling baik
penyesuaiannya pada suatu tempat tumbuh, dalam hal bentuk hidup, pembiakannya,
sifat-sifatnya serta pertumbuhannya. Walaupun demikian, terdapat keragaman di
dalam dan diantara populasi berbagai jenis pohon.
Dalam
pemuliaan pohon hutan, kita memilih pohon-pohon yang memiliki sifat-sifat yang
kita kehendaki, mengarahkan seleksi dan pembiakan untuk menghasilkan
pohon-pohon yang lebih unggul dalam sifat-sifat tertentu.
Adapun ruang
lingkup pemuliaan pohon hutan meliputi kegiatan pokok yaitu :
1.
Meneliti keragaman populasi jenis
pohon
2.
Mengadakan percobaan penanaman jenis
pohon dari berbagai daerah asal (provenance trials)
3.
Memilih pohon-pohon yang memiliki
sifat-sifat tertentu dan memperkembangbiakkannya (selection)
4.
Menyimpan sifat atau genotif dalam
kebun biji (seed orchard)
5.
Mengawinkan pohon-pohon terpilih
atau unggul (breeding)
6.
Mengadakan percobaan penanaman hasil
perkawinan pohon-pohon terpilih atau unggul (progeny test)
Kegiatan-kegiatan
yang menunjang pemuliaan pohon ialah meneliti fenologi dan biologi pembungaan
dan pembuahan, melakukan pengumpulan butir sari dan penyerbukan serta
mengadakan pembiakan vegetatif.
1.2 Tujuan Praktikum
·
Agar mahasiswa mengetahui cara –
cara atau teknik uji - uji pohon secara
praktis itu yakni seperti Uji Coba Jenis (Species
trial), Uji Coba Tempat Asal Benih (Provenances
trial) dan Uji keturunan (progeny test).
·
Mengetahui tehnik – tehnik
perkembangbiakan tanaman yang digunakan PT Surya Hutani Jaya untuk mengembangkan Hutan Tanaman Industri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KERAGAMAN DAN SEBAB-SEBABNYA
Macam
keragaman
Jenis-jenis
pohon memperlihatkan keragaman (variasi “variation”) dalam sifat-sifatnya.
Dalam sesuatu jenis pohon dapat di jumpai keragaman geografis (antar
provenansi), keragaman lokal (antar
tempat tumbuh, antar tapak), keragaman antar pohon dan keragaman di dalam
pohon.
Ada
dua sebab utama yang menimbulkan keragaman itu, yaitu perbedaan keadaan
lingkungan dan perbedaan susunan genetik. Keragaman yang disebabkan oleh
perbedaan keadaan tempat tumbuh, sifat-sifat tanah dan jarak tanam adalah
keragaman yang disebabkan lingkungan atau singkatnya keragaman lingkungan
(“environmental variation”). Ada pula keragaman yang tak dapat diterangkan
dengan perbedaan tempat tumbuh, misalnya perbedaan bentuk batang, tebal cabang
dan berat jenis kayu dari pohon-pohon dalam suatu tegakan. Dalam hal ini
keragaman banyak dipengaruhi oleh perbedaan genetik yang diturunkan dari tetua
pada keturunannya, dan disebut keragaman genetik (“genetik variation”).
Adapun
contoh dari keragaman dan faktor-faktor yang menyebabkannya (Soerianegara,1970),
yaitu sebagai berikut :
|
Tingkat
keragaman
|
Faktor
penyebab utama
|
Contoh
|
|
Geografis
(antar provenansi)
|
Genetic
|
daya tahan kekeringan
|
|
lingkungan
|
berat jenis kayu
|
|
|
Lokal
(antar tapak)
|
Genetic
|
Ekotypa, klina
|
|
lingkungan
|
kecepatan tumbuh
|
|
|
Antar pohon (pada tempat tumbuh,
jarak tanam dan umur sama)
|
Genetic
|
berat jenis kayu, bentuk batang,
kecepatan tumbuh, daya tahan terhadap hama penyakit, kwalitas kayu
|
|
Di dalam pohon
|
lingkungan
|
sifat-sifat kayu pada
bagian-bagian batang, ukuran daun dsb.
|
Walaupun
demikian, kita tak mungkin menentukan dengan tegas mana yang disebabkan oleh
keragaman lingkungan dan mana yang disebabkan oleh keragaman genetik, karena
keduanya saling mempengaruhi. Lagipula ada sifat-sifat yang teguh dipengaruhi
oleh susunan genetik dan ada pula yang plastis, yaitu mudah berubah dengan
perubahan lingkungan. Misalnya, bentuk batang lebih teguh dari pada pertumbuhan
diameter dan tinggi. Jadi pada umunya sifat yang kita lihat (phenotypa) adalah
hasil interaksi antara sifat atau susunan genetik (genotypa) dan lingkungan.
Di
dalam suatu daerah seringkali di jumpai keragaman genetik yang disebabkan oleh
perbedaan lingkungan, sesudah melalui seleksi alam (“natural selection”). Ada
dua macam keragaman yaitu keragaman ekotypik dan keragaman klinal. Keragaman
ini dapat dilihat pada populasi-populasi alam dari sesuatu jenis yang terdapat
pada keadaan lingkungan yang berlainan. Perbedaan antara dua macam keragaman
itu ialah sebagai berikut :
|
Keragaman
klinal
|
Keragaman
ekotypik
|
|
·
Perubahan/perbedaan kontinu
mengikuti perubahan lingkungan yang berangsur.
|
Perubahan/perbedaan
diskrit terdapat pada lingkungan yang berbeda.
|
|
·
Sifat yang berbeda hanya
satu.
|
Beberapa
sifat berbeda
|
Adanya keragaman dalam sesuatu jenis perlu
diketahui dahulu sebelum memulai dengan pemuliaan pohon, karena :
1.
Adanya keragaman genetik merupakan
syarat mutlak dalam pemuliaan, yaitu untuk memungkinkan seleksi.
2.
Untuk mencegah dihasilkannya tanaman
yang tak bermutu.
Keragaman genetik
Keragaman
genetik berpokok pangkal pada pembiakan seksual, yaitu penyatuan sel jantan
(sperma) dengan sel betina (telur) menjadi zygota kemudian embyo dan akhirnya
menjadi pohon dewasa.
Pada pembentukan sel-sel jantan dan
betina terjadi perubahan dalam jumlah khromosoma dari 2n (diploid) menjadi n
(haploid) melalui meiosis. Meiosis tidak hanya menyebabkan terjadinya
pengurangan jumlah khrosoma, tetapi juga menyebabkan teradinya di versifikasi
genetik sebagai akibat seggregasi, pemisahan acakdan pertukaran gen-gen.
B. UJI COBA (Trial)
v Uji Coba Jenis (Species trial)
Uji coba jenis adalah suatu percobaan penanaman
dari berbagai jenis tanaman pada lahan tertentu dan dengan pola tertentu.
Adapun tujuannya yaitu agar mendapatkan jenis tanaman yang tumbuh baik di
lokasi tersebut.
Setiap jenis tanaman memerlukan kondisi
lingkungan yang khusus untuk bisa tumbuh secara optimal. Sedangkan kondisi
lingkungan itu sendiri sangat bervariasi baik iklim, kesuburan tanah dan
lainnya. Sudah selayaknya dalam kegiatan reboisasi perlu didasari pada
penilaian berdasar uji coba jenis.
Menurut tingkatannya uji coba jenis dapat
dibedakan menjadi 4 tahap yaitu :
1.
Tahap pembuatan arboretum
Tahap
pembuatan arboretum merupakan kegiatan awal untuk melihat jenis tanaman yang
dapat tumbuh di suatu tempat. Jenis yang ditanam sebanyak mungkin, jumlah pohon
yang ditanam tidak perlu banyak dan tidak perlu rangsangan percobaan.
2.
Tahap penyaringan jenis
Kegiatan ini
untuk menyaring dan mendapatkan beberapa jenis tanaman yang mempunyai harapan
baik. Jenis-jenis tersebut akan diuji lebih lanjut. Jumlah pohon tiap jenis
yang ditanam dalam petak coba tidak terlalu banyak misalnya 5 pohon dan jumlah
jenis yang diuji antara 20-40 jenis tergantung dari jumlah biaya, tenaga sarana
dan benih yang tersedia.
3.
Tahap pengujian jenis
Kegiatan
disini merupakan tahap membandingkan penampilan dari jenis-jenis yang mempunyai
harapan baik dari hasil coba tahap penyaringan. Disini sudah perlu adanya
rancangan percobaan dengan jumlah pohon yang cukup dalam tiap plot untuk
penilaian secara statistik. Tempat tumbuh harus distafikasi untuk menilai
interaksi antara variasi tempat tumbuh dan perbedaan jenis. Jangka waktu uji
coba biasanya ½ kali umur rotasi masing-masing jenis.
4.
Tahap pembuktian jenis
Disini
merupakan tahap meyakinkan hasil uji coba tahap ke 3 dengan teknik penanaman
yang normal. Petak coba berukuran cukup luas minimal 100 pohon dengan beberapa
ulangan. Ukuran ini dimaksudkan agar diamati aspek-aspek silvikulturnya. Dalam
tahap ini jumlah jenis dibatasi antara 1-3 jenis paling meyakinkan dari hasil
uji coba tahap sebelumnya. Jangka waktu uji coba 1 kali umur rotasi
masing-masing jenis.
v Uji Coba Tempat Asal Benih (Provenansces trial)
Uji coba tempat asal benih merupakan percobaan
tentang penanaman suatu jenis dengan menggunakan benih-benih yang dikumpulkan
dari sejumlah tegakan yang tersebar luas, kemudian semai-semai ditanam pada
kondisi tempat tumbuh yang sama dengan menggunakan rancangan percobaan
tertentu.
Penggunaan benih dari tempat asal yang geografik
dan ekologik yang tepat merupakan syarat utama bagi keberhasilan usaha
penanaman. Tanpa memperhatikan hal ini kemungkinan besar usaha penanaman akan
dapat mengecewakan, yaitu pada permulaannya tanaman dapat tumbuh tetapi lama
kelamaan mundur dan tidak produktif serta menurun kwalitas kayunya pada waktu
panen. Oleh karena itu pemilihan tempat asal benih/sumber benih merupakan salah
satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penanaman.
Uji coba tempat asal benih merupakan proses
pemilihan yang dinamis dan berkelanjutan, oleh karena itu pelaksanaannya dapat
dibagi menjadi 3 tahap atau phase yaitu sebagai berikut :
1.
Tahap penyaringan tempat asal benih
(Range wide provenance phase)
Pada tahap
ini dapat diuji 10-30 jenis asal benih suatu jenis terpilih dengan waktu
pengamatan antara 0,25-0,5 daur. Tahap ini bertujuan untuk menentukan variasi
alamiah yang besar.
2.
Tahap pembatasan tempat asal benih
(Restricted provenance phase)
Pada tahap
ini diuji 3-5 tempat asal benih yang sudah menunjukkan harapan terbaik dari
hasil pengujian tahap penyaringan, dengan waktu pengamatan sekitar 0,5
perkiraan daur. Tahap ini bertujuan untuk menemukan tempat asal benih suatu
jenis terpilih yang paling produktif
pada tempat tumbuhnya yang baru.
3.
Tahap pembuktian tempat asal benih
(Provenance proving phase)
Pada tahap
ini hanya diuji 1-2 tempat asal benih, yang merupakan hasil pengujian pada
tahap pembatasan dengan waktu pengamatan yang lebuh lama (satu daur). Tahap ini
bertujuan untuk meyakinkan tempat asal benih yang paling produktif sebagai
pembuktian dari tahap sebelumnya, dengan tindakan silvikultur yang bisa
ditetapkan.
Pada tahap penyaringan
dan pembatasan, uji coba menggunakan percobaan tertentu dan setiap
tempat asal benih disusun dalam plot dari kumpulan beberapa pohon (25-49 pohon)
berbentuk bujur sangkar. Sedangkan tahap pembuktian, dilaksanakan dengan
rancangan percobaan yang sederhana, menggunakan plot dengan ukuran lebih besar
terdiri dari 100 pohon atau lebih.
C. SELEKSI
Seleksi sebagai proses dari peningkatan nilai,
yang telah dilakukan orang lama sebelum prinsip-prinsip genetika dan pemuliaan
diketahui dan dimengerti orang. Seleksi itu sendiri adalah proses dimana
individu-individu dengan sifat-sifat tertentu lebih disukai untuk
diperkembangbiakkan. Sifat-sifat yang biasanya diseleksi ialah : tinggi pohon
yang unggul, diameter pohon yang unggul, daya lepas cabang yang baik, batang
yang lurus (tidak bengkok atau melilit), percabangan yang ringan dan mendatar
(pada konifera), tajuk yang sempit, padat dan berbentuk baik, tahan terhadap
hama dan penyakit, tahan kekeringan dan mempunyai kwalitas kayu yang baik.
Seleksi ini hanya akan effektif terhadap sifat-sifat yang dipengaruhi susunan
genetik (sifat-sifat genetik) terutama sifat-sifat genetik yang additive,
misalnya tinggi pohon, berat jenis, bentuk batang, dan lain-lain.
Seringkali seleksi harus dilakukan dalam tegakan
hutan alam dan hutan tanaman pada keadaan lingkungan yang berbeda-beda,
karenanya perlu di usahakan untuk mengurangi pengaruh keadaan lingkungan.
Adapun caranya yaitu sebagai berikut :
a.
Pilihlah tegakan-tegakan yang
terbaik dimana seleksi akan dilakukan, hal ini untuk mengurangi keragaman
genotypa antar tegakan.
b.
Kalau mungkin, seleksi hanya
dilakukan dalam tegakan-tegakan yang uniform dalam umur, jarak (spacing) dan
keadaan tempat tumbuh.
Dalam hubungan ini seleksi
lebih effisien dalam hutan tanaman dari pada dalam hutan alam.
c.
Kalau mungkin, pergunakan “cheek
trees” (pohon-pohon pembanding) yaitu beberapa pohon yang baik di dalam tegakan
sebagai pembanding terhadap pohon (pohon-pohon) plus. Dalam hutan tanaman, ini
akan mudah dilakukan.
d.
Dalam melakukan seleksi, batasilah
pada sifat-sifat yang terpenting saja. Jika seleksi menyangkut terlalu banyak
sifat, hasilnya mungkin takkan ada, karena beberapa sifat (traits) mungkin
berkolerasi negatif, kecuali jika dipergunakan suatu “selection index” dimana
sifat-sifat di “weighted” terhadap nilai ekonomi, heritabilitas, dan lain-lain.
Konsep Dasar
Heritabilitas
Nilai pengamatan terhadap sifat tertentu dari
suatu individu yang dapat diukur, dinamakan nilai fenotipa individu itu. Nilai
fenotipa dari suatu individu adalah hasil bersama dari pengaruh-pengaruh
genotipa dan lingkungan.
Menurut Falconer (1967), nilai heritabilitas
dari suatu sifat didefinisikan sebagai perbandingan antara ragam genetk aditif
terhadap ragam fenotipa.
Tentang sifat-sifat
yang diseleksi
Pada suatu jenis pohon yang penyebarannya luas
perbedaan sifat di antara ekotipa-ekotipanya dapat mencapai 25-50% (Wright,
1962). Karena itu seleksi harus dimulai dengan ekotipa yang baik untuk mencegah
kerugian waktu beberapa generasi. Menggunakan jenis phon yang tidak diketahui
asal-usulnya (provenansi) dalam seleksi dan pemuliaan tidak dapat dibenarkan,
antara lain karena ada kemungkinan bahwa jenis itu sudah hybrid dan keunggulan
sifatnya disebabkan oleh overdominance, sehingga pengawinan (crossing) akan
negatif hasilnya. Seleksi yang dilakukan dengan tepat dapat memberikan hasil
genetis sebesar 3-10% tiap generasi (Wright, 1962). Kemajuan genetis dari
seleksi tergantung pada susunan genetis (genetis make up, inheritance pattern)
dan besar kecilnya keragaman genetik an lingkungannya. Beberapa sifat lebih
kuat dipengaruhi oleh susunan genetik dari pada sifat lain. Misalnya, tumbuh
tinggi lebih kuat dipengaruhi susunan genetik daripada tumbuh berdiameter ;
bentuk batang lebih kuat dipengaruhinya dari pada tumbuh tinggi, dan
sifat-sifat seperti kwalitas kayu dan waktu berbunga sangat dipengaruhi susunan
genetik.
Keragaman genetik dapat terdiri dari keragaman
yang additif dan yang non-additif. Keragaman additif disebabkan oleh
effek-effek additif dari allel 2 pada suatu lokus terhadap nilai genotypik (dan
nilai phenotypik). Misalnya allel A1 yang mempunyai nilai genetik 2
dan A2 yang mempunyai nilai genetik 2. Jika allel itu mempunyai effek additif maka gabungan dari keduanya
akan menghasilkan nilai genetik 4.
Keragaman
non-additif disebabkan oleh dominansi dan epistasis sehingga allel itu tidak
mempunyai effek additif misalnya, dengan contoh di atas, hasil gabungan A1
dan A2 adalah 3. Dalam hal ini hasil genetis tak dapat di duga
(unprediotable).
Sifat-sifat yang mempunyai ragam additif yang
besar akan memberikan response yang cepat pada seleksi dan pemuliaan. Masih
banyak penelitian perlu diadakan untuk menetapkan besarnya ragam genetik
additif ini untuk sifat-sifat yang ekonomis penting. Pada pinus taeda diketahui
misalnya bahwa berat jenis kayu mempunyai ragam additif yang besar, bentuk
batang sedang, dan riap volume hanya kecil saja.
v Cara-cara seleksi
A.
Seleksi massa
Cara seleksi yang paling sederhana adalah seleksi
massa (mass selection) yang di dasarkan atas penilian sifat-sifat phenotypic
individual dari pohon-pohon di dalam suatu populasi. Cara seleksi paling sering
dipergunakan pada tahap-tahap permulaan dari progam pemuliaan, dan juga pada
aced production area untuk menetapkan pohon-pohon induk yang mempunyai
sifat-sifat (phenotypik) yang unggul.
1)
Seleksi massa pada daerah penghasil biji (seed production area).
Dari
daerah penghasil biji dikumpulkan biji-biji dari induk-induk yang unggul, dan
ditanam di hutan tanaman. Anakan semainya (seedlings) tidak dipisahkan menurut
pohonnya. Jika siat yang bersangkutan mempunyai heritabilitas yang tinggi,
hasil yang dicapai akan sama dengan hasil suatu program pemuliaan yang lebih
sulit (Wrigth, 1962).
Untuk menetapkan suatu daerah penghasil
benih dipilih suatu tegakan hutan alam
atau tanaman yang paling baik. Dari tegakan ini dan jalur isolasinya,
pohom-pohon yang paling buruk dibuang kira-kira 50-90% (Wright, 1962).
Kekurangan suatu seed production area dari sudut seleksi dan pemuliaan adalah
karena differensial seleksinya yang rendah, sehingga hasilnya semata-mata
tergantung pada nilai heritabilitas sifat yang diseleksi.
2)
Seleksi massa pada program pemuliaan
Biji-biji
dikumpulkan dari induk-induk sebagai penyerbukan bebas (openpollination) atua
penyerbukan terkontrol (control pollination). Paa penyerbukan bebas, biji
dikumpulkan dari induk-induk yang terseleksi lalu ditanam di kebun biji F1
, dijarangkan untuk mendapatkan pohon-pohon yang terbaik, lalu dikumpulkan
untuk menanam generasi F2 (Wright, 1962). Seleksi diulangi terhadap
generasi F2 tersebut. Beberapa kebun biji adalah hasil dari seleksi
ini. Cara ini relatif murah dan tanaman generasi F1 itu dapat
merupakan hutan tanaman biasa. Jika pekerjaan ini dilakukan secara besar
besaran, asalkan sifat=sifat yang bersangkutan mempunyai heritabilitas dan
differensial seleksi yang tinggi, kemajuan genetiknya akan besar. Untuk
menetapkan kemajuan genetik tersebut perlu dilakukan uji keturunan.
Pada
penyerbukan terkontrol, biji dikumpulkan sebagai perkawinan dari induk-induk
jantan dan betina yang terseleksi, ditanam dalam kebun biji F1 ,
dijarangkan untuk mendapatkan pohon-pohon terbaik, lalu dikumpulkan biji untuk
menanam generasi F2 secara besar-besaran (komersil) (Wright, 1962).
Dalam program ini perlu diadakan uji keturunan. Kwalitas biji yang dihasilkan
sudah tentu lebih baik dari cara terdahulu, tetapi biayanya lebih tinggi
(Wright, 1962).
B.
Seleksi Famili
Pada seleksi massa, biji yang dikumpulkan dari
pohon-pohon induk tidak dipisah-pisahkan menurut induknya masing-masing, tetapi
pada seleksi famili ini biji dan anaknya dipisah-pisahkan menurut induk
betinanya masing-masing, agar dapat menilai keadaan famili (keluarga) nya. Ada
dua macam famili, yaitu famili halfsib (saudara tiri), jika keturunannya
mempunyai satu induk betina yang sama, dan famili full-sib (saudara kandung),
jika keturunannya berasal dari dua induk, jantan dan betina yang sama.
1.
Seleksi saudara tiri (famili
half-sib)
·
Hasil penyerbukan bebas
Biji dikumpulkan dari
induk (betina) yang terseleksi, dupisahkan biji dan anakannya menurut induk
betina masing-masing, adakan uji keturunan pada generasi F1 ,
jarangkan untuk mendapatkan famili-famili atau individu-individu di dalam
famili yang terbaik, kumpulkan biji untuk membuat tanaman generasi F2
secara besar-besaran (Wright, 1962). Seleksi diulangi dengan uji keturunan pada
generasi F2 ini tanaman untuk uji keturunan dapat dijadikan kebun
biji.
·
Hasil penyerbukan terkontrol dengan
pollen mix
Pohon-pohon induk
betina yang terseleksi dibuahi dengan cara penyerbukan terkontrol dengan pollen
mix (campuran butir sari) berasal dari beberapa pohon induk jantan yang
terseleksi.
Kumpulkan biji,
pisahkan biji dan anakan menurut induk betina masing-masing dan adakan uji
keturunan pada generasi F1 , jarangkan untuk mendapatkan famili
terbaik atau individu terbaik dalam famili (Wright, 1962). Perbedaan cara ini
dengan yang sebelumnya adalah mengganti penyerbukan angin oleh berbagai induk
jantan yang tidak terseleksi dengan penyerbukan terkontrol dengan campuran
butir sari dari induk-induk jantan yang terseleksi.
2.
Seleksi saudara kandung (famili
full-sib)
Pohon-pohon induk
betina yang terseleksi dibuahi secara penyerbukan terkontrol dengan butir sari dari induk-induk jantan.
D.
UJI KETURUNAN
(Progeny
test)
Uji keturunan (progeny test)
adalah cara untuk menduga susunan
genetik suatu individu dengan meneliti sifat -
sifat keturunarnya. Uji ini biasanya
digunakan dalam program seleksi dan pemuliaan dan sangat berguna untuk
sifat - sifat yang mempunyai heritabilitas rendah. Oleh sebab itu, uji
ini dapat pula dianggap sebagai salali satu cara seleksi famili, bahkan suatu cara seleksi yang paling
tepat.
Uji Keturunan Dalam Seleksi
Dalam uji keturunan ini kita memilih (menseleksi)
induk yang memiliki nilai genetik atau nilai pemuliaan ("breeding value") yang tertinggi dengan menghitung
daya gabung ("combining
ability").
Ada dua macam daya gabung, yaitu :
1. Daya gabung umurn (DGU), yang didasarkan atas
keadaan (performance) keturunan dari
hasil perkawinan satu induk dengan beberapa
induk lain. Nilai DGU ini 1/2 dari nilai pemuliaan.
2. Daya gabung spesifik (DGS), yang didasarkan pada keadaan keturunan
dari hasil perkawinan dua induk.
Nilai rata-rata
satu keturunan ("progeny value") yang dinyatakan dengan penyimpangan (deviasi) dari nilai-nilai rata-rata keturunan dari semua
perkawinan adalah :
MXy
= DGUX + DGUy + DGSXy
Dimana DGUx = daya gabung umum dari klon x (1/2 dari nilai pemuliaan klon itu)
DGUy = daya gabung umum dari klon y
DGSXy=daya
gabung spesifik dari perkawinan antara klon x dengan klon y.
Suatu induk dikatakan mempunyal daya gabung umum yang
baik apabila hasil perkawinannya dengan sejumlah induk lainnya memberikan nilai rata-rata yang mendekati nilai rata-rata keseluruhan perkawinan yang dilakukan. Sedangkan
suatu induk dikatakan mempunyai daya
gabung spesifik yang baik apabila dalam
suatu pasangan perkawinan memberikan nilai yang jauh lebih baik dari rata-rata keseluruhan perkawinan, dengan kata lain bahwa daya gabung spesifik memperlihatkan keselektivitasan suatu induk bila disilangkan dengan induk yang
lain.
Rancangan perkawinan
Untuk penetapan daya gabung dan
nilai permuliaan itu ada beberapa cara mengawinkan atau rancangan perkawinan (mating design), yaitu
:
a. Partial Diallel
Pada partial Diallel design
perkawinan (mating) yang dibuat tidak dengan setiap klon yang ada di dalam
kebin biji, melainkan misalnya dengan
setengahnya dari yang ada. Contohnya seperti
tertera pada bagian di bawah ini dimana ada 10 klon, dengan lima perkawinan per klon. Pada rancangnn
perkawinan ini tak ada pertukaran perkawinan (reciprocal cross) dan
perkawinan sendiri (selfed cross).
b. Tester (factorial)
design (N.C. State Design
II)
Rancangan
ini digunakan dalam program pemuliaan dari cooperative Tree Improvement programs
di North Carolina.
Pada rancangan ini beberapa klon
dalam kebun uji ditetapkan sebagai
toster (penguji) dan dikawinkan dengan klon-klon lain
didalam kebun biji.
Dari rancangan ini akan diperoleh informasi tentang DGU dan nilai pemuliaan dari klon-klon
didalam kebun dan DGS dari beborapa
klon. Cara ini yang dianggap paling flexsible diantara control pollination designs dalam uji keturunan.
c. Polymix
(pollen mix) design
Pada
rancangan ini semua klon di dalam kebun dibuahi secara terkontrol
(control crossing) dengan campuran tertentu dari pollen (butir - butir sari).
Untuk membuat pollen mix tersebut diperlukan
pengumpulan pollen dari sedikit-dikitnya
10 pohon induk. Dari rancangan ini akan
didapat informasi mengenai DGU dan nilai pemuliaan saja.
d. Open - pellinated mating
design
Dalam
rancangan ini dikumpulkan buah-buah dari klon-klon yang telah mengalami penyerbukan bebas oleh
klon-klon lain di dalam kebun.
Rancangan ini baru dapat digunakan dalam
kebun yang sudah cukup tua (sudah dapat menghansilkan biji dalam
jumlah besar) untuk mencegah bias, karena non-random pollination. Dari rancangan
ini diperoleh informasi tentang nilai pemuliaan , asalkan non-random
pollination dapat dicegah.
Daerah Uji (test area) dan rancangan percobaan
Yang dimaksud dengan daerah Uji disini adalah_lapangan dimana uji_ keturunan diadakan. Untuk dapat mengevaluasi
perbedaan genetik antara family-famili dengan tepat, pengaruh lingkungan dalam daerah uji harus terkontrol dan
diusahakan supaya konstan untuk semua famili yang sedang diuji. Pelaksanaannya tidaklah mudah, karena uji keturunan harus dilakukan
di lapangan (test area) yang
keadaannya sama dengan lapangan dimana
anakan pohon yang berasal dari kebun biji akan ditanam secara besar - besaran sebagai hutan tanaman.
Untuk dapat mengurangi “environmental error"
dalam uji keturunan ini, daerah uji harus diusahakan se-uniform
mungkin dalam topografi, kesuburan tanah, dan pengolahan
tanah.
Pada Lapangan yang telah dipilih
sebagai daerah uji environmental error dalam uji keturunan dapat dikurangi dengan :
1) Menggunakan petak - petak famili yang kecil yang diatur dalam jajar -
jajar (row)
2) Mengacak petak - petak famili di dalam blok atau r eplikasi,
jadi menggunakan randomized complete block design.
3) Mengadakan replikasi secukupnya,
dengan mengusahakan agar semua petak dalam
replikasi terdapat dalam tempat yang uniform
4) Mengatur petak - petak di dalam replikasi sedemikian hingga semua variabilitas tempat tumbuh dapat di sample.
Menurut pengalaman, petak-petak yang panjang dan sempit dan membujur ke arah variasi
tempat tumbuh yang terbesar (misalnya menaik atau menurun lereng) dapat mengatasi sebagian besar pengaruh -
pengaruh variabilitas lingkungan. Banyaknya
replikasi tergantung pada variabilitas tanah tingkat ketelitian yang
dikehendaki, dan persediaan bahan tanaman
(bi ji) . Biasanya 5
atau 6 replikasi dianggap cukup untuk
berbagai jenis tanaman.
Replikasi dari seluruh progeny test dalam waktu dan
ruang sering kali perlu, misalnya 6 replikasi dalam ruang dan 3 replikasi dalam waktu. Dengan
demikian kita dapat mengukur keadaan keturunan pada keadaan tanah dan iklim yang berlainan.
Ini
penting
untuk
pohon - pohon kehutanan
karena
anakan
yang
berasal
dari kebun biji akan ditanam di lapangan dengan keadaan tanah
dan iklim yang berbeda. Replikasi dalam waktupun
penting mengingat kemungkinan keragaman oleh kekeringan dan
infestasi penyakit.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1
Lokasi dan Waktu Praktikum
v Lokasi praktikum pemuliaan pohon dilaksanakan di PT.
Surya Hutani Jaya kecamatan Sebulu.
v Waktu praktikum dilaksanakan
pada tanggal 3 Mei 2010, dengan rincian waktu sebagai berikut:
·
Berkumpul dan berangkat dari kampus pukul 07.40 Wita
·
Sampai di PT. SHJ pukul 10.10 Wita.
·
Mendengarkan presentasi tentang PT. SHJ pukul 10.20
Wita.
·
ISHOMA pukul 12.00 – 13.30 Wita.
·
Melihat kawasan pemuliaan pohon di PT.SHJ pukul
13.30-16.00 Wita.
·
Kembali ke base camp PT. SHJ pukul 16.15 Wita.
·
Pulang dan sampai di kampus pukul 16.30 - 19.00
Wita.
3.2
Alat dan Bahan
· Alat tulis dan bahan : pulpen,
dan buku tulis.
· Alat domentasi : kamera
digital, atau kamera hp.
3.3
Prosedur Praktikum
·
Mendengarkan penjelasan singkat tentang latar belakang
berdirinya PT SHJ.
·
Mencatat hal hal penting tentang proses pemuliaan pohon
yang dilakukan PT SHJ.
·
Berkeliling melihat hasil dari pemuliaan pohon serta
mendengarkan penjelasan singkat dari pemandu PT SHJ.
·
Mencatat point point penting pada lokasi konsevasi
gen-eksitu, 2 lokasi uji progeny test dan persemaian bibit eucalyptus pellita.
·
Mengambil foto foto yang penting sebagai bahan dokumentasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Acacia
mangium Willd
Di persemaian yang di miliki oleh PT Surya
Hutani Jaya di semaikan beberapa jenis seperti Akasia (Acacia mangium) sebagai
tanaman produksi pokok. Pada persemaian Akasia media yang digunakan adalah campuran akar paku dengan sekam padi dengan
perbandingan 80 : 20, sebelum dicampur dengan sekam padi media akar paku
tersebut terlebih dahulu dicincang secara manual baru kemudian dicampur dengan
sekam padi lalu campuran tersebut dimasukan kedalam single tube yang berukuran 80 mm sambil dipadatkan. Setelah media
siap saji barulah biji Akasia mulai ditanam dalam single tube dengan 2 atau 3 biji. Lalu di pindahkan ke shadow area dengan penyinaran 70%.
B. Eucaliyptus
pellita
Selain
Akasia PT. Surya Hutani Jaya juga memproduksi jenis lain yaitu Ekaliptus (Eucalyptus pellita), perlakuan pada
ekaliptus tidak sama dengan yang dilakukan pada akasia, perbandingan media
tanam yang digunakan adalah 80;20, yang ditanam dalam single tube adalah kecambahnya bukan biji, kecambah tersebut
dikembangkan dimedia perkecambahan yang terdiri dari pasir dibawah sungkup
plastik transparan, selain itu juga berasal dari kebun pangkas.
Ecalyptus pellita
tumbuh baik pada tanah Inseptisol dan ultisaol yang terdapat banyak pasir dan
lempung. Penyakit yang banyak menyerang pada persemaian ini adalah leaf blight (daun yang membusuk dalam
semalam), Necroses, busuk akar, dan
penggerek batang. Ekaliptus biasanya digunakan untuk membuat paper dan tanaman
ini merespon baik pada pupuk N, P, K.
C. Provenancy Test
Provenansi adalah daerah sumber asal
benih atau biji yang menyebar secara alami. Perbedaan provenansi sangat
menentukan mutu benih yang akan dikembangbiakan sebab keaadaan geografis,
iklim, serta tapak yang berbeda. Penanaman dengan jenis dan ras yang tidak
tepat akibatnya akan selalu mengecewakan, antaralain sebagai berikut :
a)
Yang nyata, kerusakan karena tidak
sesuai tempat tumbuh,
b)
Yang tidak nyata dan sangat
berbahaya jika permulaan tumbuh baik, tapi lama kelamaan mundur dan tidak
produktif lagi,
c)
Jenis – jenis yang tidak sesuai
seringkali peka terhadap hama dan penyakit sehingga merugikan bila tegakan yang
sudah masa tebang mendapatkan banyak kerusakan,
d)
Pada tempat tumbuh yang tidak
sesuai, kualitas kayu sering kali berubah.
v Pada Stop 1 “Konservasi gen-eksitu Eucalyptus pellita”
Tegakan ini adalah tegakan Eucalyptus pellita yang pertama ditanam di PT. SHJ, tegakan yang
digunakan berasal dari hasil eksplorasi alam yang tidak merata, sehingga hanya
di peroleh 5 pohon induk yang dapat dikumpulkan benihnya dan hasil pencampuran
benih dari 5 pohon tersebut ditanam seluas 25 ha.
Tegakan ini sekarang digunakan sebagai tempat
pengumpulan kelestarian gen dan menjadi sarana untuk program pelatihan karyawan
PT. SHJ, misalnya pelatihan pemetaan, pengukuran pohon, breeding (seleksi
pohon), pemanenan benih dan sebagainnya. Bahkan mahasiswa dari kehutanan unmul
juga sering melakukan praktek kerja dan studi lapangan. Pada saat awal tegakan
di tanam tahun 1992 menggunakan jarak tanam 3 x 2 m (1666 pohon/ha), tetapi
pada umur 4 tahun dilakukan penjarangan sampai populasi 800 pohon/ha dan pada
umur 6 tahun dijarangi lagi menjadi 400 pohon/ha.
v Pada Stop 2 “Progeny Test Eucalyptus pellita dengan Half sib”
Bila
terdapat 1 pohon plus yang diambil benihnya kemudian dibuat progeny. Dilakukan
uji kemampuan dari induknya yang menghasilkan keturunan yang paling baik tetapi
bukan dari keturunannya yang di uji, tetapi dinilai berdasarkan keturunananya.
Kemudian menjadi kebun benih yang sudah teruji menurunkan sifatnya kepada
keturunananya dimana dalam pemuliaan disebut sebagai heritability yang nilainya
0-1 dalam bentuk 1 berarti 100%.
Half sib dilihat darimana pohon
plus yang di jagokan berasal dari papua
memberikan keturunan yang bagus dimana 1 induk betina menurunkan 1 seet lot 1
unggulan yang bagus.1 induk menghasilkan jutaan pohon dimana 1 kapsul berisi
8-10. Dari sekian banyak bibit yang ditanam akan ada satu pohon terbaik. Dari
satu induk akan terlihat perbedaan dari hasil keturunan tersebut terdapat pohon
yang berukuran besar dan juga yang berukuran kecil.
v Pada Stop 3 “Progeny Test Eucalyptus pellita dengan full sib”
Di
full sib itu sendiri diketahui dua induknya dengan mengendalikan kontrol
pollination atau dengan perkawinan silang secara terkendali yang dilakukan oleh
manusia maka akan di hasilkan full sib, tetapi di hutan alam tidak akan mungkin
terjadi full sib karena siapa yang mengatur perkawinan antara pohon 1 dengan
pohon lainnya, tetapi pada Eucalyptus
pellita memiliki bunga jantan dan betina yang terdapat pada 1 kapsul jadi
pohon tersebut dapat kawin sendiri, dimana memungkinkan 1 kapsul terdapat 1
putik dan 1 benang sari yang bisa mengawinkan di dalam kapsul sendiri, full sib
dilakukan dalam kurun waktu yang sangat panjang. Lanjutan dari 1 pohon plus kemudian
di uji keunggulan masing-masing pohon plus ada keunggulan dari sifat kayunya,
ada keunggulan pertumbuhannya dan keunggulan pertahananya terhadap serangan
pernyakit, kemudian itu dikawin silangkan antara pohon plus tesebut secara
manual yang dilakukan manusia dengan cara pohon plus yang ada di hutan dipanjat
dan diambil cabangya kemudian diokulasi kemudian dirangsang pembungaanya dengan
bahan kimia (PKZ) pohon tersebut agar bungannya seperti pohon buah buahan yang
pendek pendek seperti pohon mangga dan lainnya, kemudian di rangsang keluar
bungannya, kemudian dari tiap pohon kita kawin silangkan, dimana semua dikawin
silangkan (full cross) tetapi hanya 49 pohon yang dapat menghasilkan biji, jadi
bila kita berhasil mengawinkan belum tettu dapat menghasilkan biji, dari kita
mengawinkan hingga mengahasilkan biji dibutuhkan waktu sampai 6 bulan, kemudian
mengambil propagul dari pohon plus hingga siap berbunga membutuhkan waktu 2
tahun, jadi pohon plus di tambah 2 tahun hingga melakukan kawin silang sekitar
3 tahun sampai dapat menghasilkan bijinya, dan 49 biji tersebut yang di uji
pada lokasi ke 3 full sib.
v Stop 4 “NURSERY Eucalyptus
pellita”
Persemaian
adalah kegiatan mengecambahkan benih di atas bedeng semai. Kawasan pesemaian di
PT. Surya Hutani Jaya memiliki kapasitas sekitar 20.000 ha/tahun. Adapun luas areal
persemaian yaitu sekitar ± 10 ha.
Kultur
jaringan dilakukan selama 3-4 minggu dan menyesuaikan iklim yang diambil dari
perusahaan sejenis di Riau. Kultur jaringan itu sendiri disesuaikan dengan
iklim yakni selama 2 bulan, 1 bulan dalam lokasi terlindung/tertutup dan 1
bulan lainnya pada lokasi yang terbuka, digunakan serabut kelapa yang diseterilkan
ditambah akar pakis dengan perbandingan 30 : 70 sebagai substrat untuk
memperoleh pembibitan dengan ukuran yang sesuai untuk tanaman semai. Adapun media
untuk tanaman semai yang digunakan yaitu campuran dari pasir dan batu kerikil
dengan perbandingan 20 : 80. Tanaman semai ditanam dengan luas 10 x 12
cm,dengan komposisi 80 tanaman semai per m2. Benih pertama yang
dihasilkan dalam 1 bulan setelah penanaman di media pasir dan menunggu tunas
untuk tumbuh. Tunas yang dipotong dapat dipanen 1 bulan setelah benih pertama
dan tingkat produktivitas dari tamanan semai adalah 6 tunas/tanaman semai/bulan
setelah tanaman semai berumur 3 bulan pada media pasir.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Uji
coba tempat asal benih (Provenances trial)
merupakan percobaan tentang penanaman suatu jenis dengan menggunakan
benih-benih yang dikumpulkan dari sejumlah tegakan yang tersebar luas, kemudian
semai-semai ditanam pada kondisi tempat tumbuh yang sama dengan menggunakan
rancangan percobaan tertentu.
Penggunaan
benih dari tempat asal yang geografik dan ekologik yang tepat merupakan syarat
utama bagi keberhasilan usaha penanaman.
Dalam
uji keturunan (progeny test) suatu
induk dikatakan mempunyal daya gabung umum yang baik apabila hasil
perkawinannya dengan sejumlah induk lainnya memberikan nilai rata-rata yang mendekati nilai rata-rata keseluruhan perkawinan yang dilakukan. Sedangkan
suatu induk dikatakan mempunyai daya
gabung spesifik yang baik apabila dalam
suatu pasangan perkawinan memberikan nilai yang jauh lebih baik dari rata-rata keseluruhan perkawinan, dengan kata lain bahwa daya gabung spesifik memperlihatkan keselektivitasan suatu induk bila disilangkan dengan induk yang
lain.
5.2 Saran
1)
Sebelum melakukan kunjungan ke
perusahaan atau melakukan praktikum sebaiknya mahasiswa terlebih dahulu banyak
membaca teori-teori secara garis besar tentang pemuliaan agar tidak canggung
pada saat dilapangan.
2)
Dalam melakukan praktikum
kelapangan, sebaiknya mahasiswa praktikan memperhatikan penjelasan dari
pembimbing perusahaan dalam menjelaskan di lapangan maupun di dalam ruangan.
3)
Dalam melakukan praktikum di
lapangan, sebaiknya praktikan mencatat penjelasan dari pembimbing perusahaan
dan bertanya jika ada yang tidak di mengerti.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1982. Program Pemuliaan
Pohon Hutan. Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Kehutanan. Direktorat
Reboisasi dan Rehabilitasi, NO.C2., Jakarta.
Anonim, 1987. Pedoman
Penyelenggaraan Uji Coba Jenis. Departemen Kehutanan, Direktorat Jendral
Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Reb.07;13.1. Jakarta.
Oemi Hani’in et all. 1979.
Pemikiran Penyusunan Program Pemuliaan Pohon Hutan secara Nasional. Fakultas
Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.



