Senin, 25 Mei 2015

PEMULIAAN POHON

KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan, berkat dan hidayah-Nya sehingga laporan Praktikum Pemuliaan Pohon ini dapat diselesaikan dengan baik.
Laporan Praktikum Pemuliaan Pohon ini dimaksudkan untuk memberitahukan hasil praktikum yang telah dilakukan di PT. Surya Hutani Jaya, pada hari Senin, 3 Mei 2010. Materi yang tersaji dalam laporan ini berdasarkan materi yang telah di dapatkan selama kuliah di kelas.
Akhir kata, kami mohon maaf apabila dalam penyampaian isi dari laporan ini masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan selanjutnya. Harapannya semoga laporan ini bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi para mahasiswa. Amin





Samarinda, Mei 2010




     Penyusun 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... (i) 
DAFTAR ISI..................................................................................................................... (ii)
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1
1.1    Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2    Tujuan Praktikum.......................................................................................... 3
Bab II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................ 4
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM ...............................................................23
3.1    Lokasi dan Waktu Praktikum ........................................................ 23
3.2    Alat dan Bahan ............................................................................. 23
3.3    Prosedur Praktikum ....................................................................... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................... 25
BAB V PENUTUP ........................................................................................... 31
5.1    Kesimpulan.................................................................................................... 31
5.2    Saran............................................................................................................... 32
Daftas Pustaka............................................................................................................ 33
LAMPIRAN .................................................................................................... 34

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Hutan adalah suatu ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Dalam memanfaatkan hutan yang merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui memerlukan sistem pengelolaan hutan yang bijaksana salah satunya ialah dengan menetapkan prinsip kelestarian. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemahaman tentang hutan sebagai suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan perlu dihayati serta dipahami oleh semua insan yang memanfaatkan hutan demi kehidupannya melalui penguasaan ilmu dan seni serta teknologi hutan dan kehutanan.
Hutan mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, sejak manusia lahir sampai mati masuk ke liang kubur manusia memerlukan produk yang dihasilkan dari hutan. Hutan memberikan perlindungan dan naungan dan produk-produk yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Seiring populasi dunia semakin berkembang, manusia semakin modern sehingga kebutuhan hasil hutan semakin meningkat. Sementara itu luas hutan kian menjadi sempit antara lain diakibatkan dari pembukaan hutan untuk kepentingan pertanian, perkebunan, pemukiman dan keperluan pembangunan lainnya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hasil hutan yang makin meningkat produktivitas hutan dengan penerapan sistem sivikultur intensif serta melakukan pemuliaan pohon hutan secara mantap.
Pemuliaan Pohon Hutan, “Forest Tree Breeding” ialah penerapan asas-asas genetika pada penanaman hutan untuk memperoleh pohon-pohon yang memiliki sifat dan hasil yang lebih tinggi nilainya (Soerianegara, 1979).
Dalam alam, terjadi seleksi alam yang menghasilkan pohon-pohon yang paling baik penyesuaiannya pada suatu tempat tumbuh, dalam hal bentuk hidup, pembiakannya, sifat-sifatnya serta pertumbuhannya. Walaupun demikian, terdapat keragaman di dalam dan diantara populasi berbagai jenis pohon.
Dalam pemuliaan pohon hutan, kita memilih pohon-pohon yang memiliki sifat-sifat yang kita kehendaki, mengarahkan seleksi dan pembiakan untuk menghasilkan pohon-pohon yang lebih unggul dalam sifat-sifat tertentu.
Adapun ruang lingkup pemuliaan pohon hutan meliputi kegiatan pokok yaitu :
1.      Meneliti keragaman populasi jenis pohon
2.      Mengadakan percobaan penanaman jenis pohon dari berbagai daerah asal (provenance trials)
3.      Memilih pohon-pohon yang memiliki sifat-sifat tertentu dan memperkembangbiakkannya (selection)
4.      Menyimpan sifat atau genotif dalam kebun biji (seed orchard)
5.      Mengawinkan pohon-pohon terpilih atau unggul (breeding)
6.      Mengadakan percobaan penanaman hasil perkawinan pohon-pohon terpilih atau unggul (progeny test)

Kegiatan-kegiatan yang menunjang pemuliaan pohon ialah meneliti fenologi dan biologi pembungaan dan pembuahan, melakukan pengumpulan butir sari dan penyerbukan serta mengadakan pembiakan vegetatif.

1.2     Tujuan Praktikum
·      Agar mahasiswa mengetahui cara – cara atau teknik uji - uji pohon  secara praktis itu yakni seperti Uji Coba Jenis (Species trial), Uji Coba Tempat Asal Benih (Provenances trial) dan Uji keturunan (progeny test).
·      Mengetahui tehnik – tehnik perkembangbiakan tanaman yang digunakan PT Surya Hutani Jaya  untuk mengembangkan Hutan Tanaman Industri.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.   KERAGAMAN DAN SEBAB-SEBABNYA
Macam keragaman
Jenis-jenis pohon memperlihatkan keragaman (variasi “variation”) dalam sifat-sifatnya. Dalam sesuatu jenis pohon dapat di jumpai keragaman geografis (antar provenansi),  keragaman lokal (antar tempat tumbuh, antar tapak), keragaman antar pohon dan keragaman di dalam pohon.
Ada dua sebab utama yang menimbulkan keragaman itu, yaitu perbedaan keadaan lingkungan dan perbedaan susunan genetik. Keragaman yang disebabkan oleh perbedaan keadaan tempat tumbuh, sifat-sifat tanah dan jarak tanam adalah keragaman yang disebabkan lingkungan atau singkatnya keragaman lingkungan (“environmental variation”). Ada pula keragaman yang tak dapat diterangkan dengan perbedaan tempat tumbuh, misalnya perbedaan bentuk batang, tebal cabang dan berat jenis kayu dari pohon-pohon dalam suatu tegakan. Dalam hal ini keragaman banyak dipengaruhi oleh perbedaan genetik yang diturunkan dari tetua pada keturunannya, dan disebut keragaman genetik (“genetik variation”).



Adapun contoh dari keragaman dan faktor-faktor yang menyebabkannya (Soerianegara,1970), yaitu sebagai berikut :
Tingkat keragaman
Faktor penyebab utama
Contoh
Geografis (antar provenansi)
Genetic
daya tahan kekeringan
lingkungan
berat jenis kayu
Lokal (antar tapak)
Genetic
Ekotypa, klina
lingkungan
kecepatan tumbuh
Antar pohon (pada tempat tumbuh, jarak tanam dan umur sama)
Genetic
berat jenis kayu, bentuk batang, kecepatan tumbuh, daya tahan terhadap hama penyakit, kwalitas kayu
Di dalam pohon
lingkungan
sifat-sifat kayu pada bagian-bagian batang, ukuran daun dsb.

Walaupun demikian, kita tak mungkin menentukan dengan tegas mana yang disebabkan oleh keragaman lingkungan dan mana yang disebabkan oleh keragaman genetik, karena keduanya saling mempengaruhi. Lagipula ada sifat-sifat yang teguh dipengaruhi oleh susunan genetik dan ada pula yang plastis, yaitu mudah berubah dengan perubahan lingkungan. Misalnya, bentuk batang lebih teguh dari pada pertumbuhan diameter dan tinggi. Jadi pada umunya sifat yang kita lihat (phenotypa) adalah hasil interaksi antara sifat atau susunan genetik (genotypa) dan lingkungan.
Di dalam suatu daerah seringkali di jumpai keragaman genetik yang disebabkan oleh perbedaan lingkungan, sesudah melalui seleksi alam (“natural selection”). Ada dua macam keragaman yaitu keragaman ekotypik dan keragaman klinal. Keragaman ini dapat dilihat pada populasi-populasi alam dari sesuatu jenis yang terdapat pada keadaan lingkungan yang berlainan. Perbedaan antara dua macam keragaman itu ialah sebagai berikut :
Keragaman klinal
Keragaman ekotypik
·        Perubahan/perbedaan kontinu mengikuti perubahan lingkungan yang berangsur.
Perubahan/perbedaan diskrit terdapat pada lingkungan yang berbeda.
·         Sifat yang berbeda hanya satu.
Beberapa sifat berbeda

Adanya keragaman dalam sesuatu jenis perlu diketahui dahulu sebelum memulai dengan pemuliaan pohon, karena :
1.      Adanya keragaman genetik merupakan syarat mutlak dalam pemuliaan, yaitu untuk memungkinkan seleksi.
2.      Untuk mencegah dihasilkannya tanaman yang tak bermutu.




Keragaman genetik
Keragaman genetik berpokok pangkal pada pembiakan seksual, yaitu penyatuan sel jantan (sperma) dengan sel betina (telur) menjadi zygota kemudian embyo dan akhirnya menjadi pohon dewasa.
            Pada pembentukan sel-sel jantan dan betina terjadi perubahan dalam jumlah khromosoma dari 2n (diploid) menjadi n (haploid) melalui meiosis. Meiosis tidak hanya menyebabkan terjadinya pengurangan jumlah khrosoma, tetapi juga menyebabkan teradinya di versifikasi genetik sebagai akibat seggregasi, pemisahan acakdan pertukaran gen-gen.

B.    UJI COBA (Trial)
v  Uji Coba Jenis (Species trial)
Uji coba jenis adalah suatu percobaan penanaman dari berbagai jenis tanaman pada lahan tertentu dan dengan pola tertentu. Adapun tujuannya yaitu agar mendapatkan jenis tanaman yang tumbuh baik di lokasi tersebut.
Setiap jenis tanaman memerlukan kondisi lingkungan yang khusus untuk bisa tumbuh secara optimal. Sedangkan kondisi lingkungan itu sendiri sangat bervariasi baik iklim, kesuburan tanah dan lainnya. Sudah selayaknya dalam kegiatan reboisasi perlu didasari pada penilaian berdasar uji coba jenis.


Menurut tingkatannya uji coba jenis dapat dibedakan menjadi 4 tahap yaitu :
1.      Tahap pembuatan arboretum
Tahap pembuatan arboretum merupakan kegiatan awal untuk melihat jenis tanaman yang dapat tumbuh di suatu tempat. Jenis yang ditanam sebanyak mungkin, jumlah pohon yang ditanam tidak perlu banyak dan tidak perlu rangsangan percobaan.
2.      Tahap penyaringan jenis
Kegiatan ini untuk menyaring dan mendapatkan beberapa jenis tanaman yang mempunyai harapan baik. Jenis-jenis tersebut akan diuji lebih lanjut. Jumlah pohon tiap jenis yang ditanam dalam petak coba tidak terlalu banyak misalnya 5 pohon dan jumlah jenis yang diuji antara 20-40 jenis tergantung dari jumlah biaya, tenaga sarana dan benih yang tersedia.
3.      Tahap pengujian jenis
Kegiatan disini merupakan tahap membandingkan penampilan dari jenis-jenis yang mempunyai harapan baik dari hasil coba tahap penyaringan. Disini sudah perlu adanya rancangan percobaan dengan jumlah pohon yang cukup dalam tiap plot untuk penilaian secara statistik. Tempat tumbuh harus distafikasi untuk menilai interaksi antara variasi tempat tumbuh dan perbedaan jenis. Jangka waktu uji coba biasanya ½ kali umur rotasi masing-masing jenis.
4.      Tahap pembuktian jenis
Disini merupakan tahap meyakinkan hasil uji coba tahap ke 3 dengan teknik penanaman yang normal. Petak coba berukuran cukup luas minimal 100 pohon dengan beberapa ulangan. Ukuran ini dimaksudkan agar diamati aspek-aspek silvikulturnya. Dalam tahap ini jumlah jenis dibatasi antara 1-3 jenis paling meyakinkan dari hasil uji coba tahap sebelumnya. Jangka waktu uji coba 1 kali umur rotasi masing-masing jenis.

v  Uji Coba Tempat Asal Benih (Provenansces trial)
Uji coba tempat asal benih merupakan percobaan tentang penanaman suatu jenis dengan menggunakan benih-benih yang dikumpulkan dari sejumlah tegakan yang tersebar luas, kemudian semai-semai ditanam pada kondisi tempat tumbuh yang sama dengan menggunakan rancangan percobaan tertentu.
Penggunaan benih dari tempat asal yang geografik dan ekologik yang tepat merupakan syarat utama bagi keberhasilan usaha penanaman. Tanpa memperhatikan hal ini kemungkinan besar usaha penanaman akan dapat mengecewakan, yaitu pada permulaannya tanaman dapat tumbuh tetapi lama kelamaan mundur dan tidak produktif serta menurun kwalitas kayunya pada waktu panen. Oleh karena itu pemilihan tempat asal benih/sumber benih merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penanaman.





Uji coba tempat asal benih merupakan proses pemilihan yang dinamis dan berkelanjutan, oleh karena itu pelaksanaannya dapat dibagi menjadi 3 tahap atau phase yaitu sebagai berikut :
1.      Tahap penyaringan tempat asal benih (Range wide provenance phase)
Pada tahap ini dapat diuji 10-30 jenis asal benih suatu jenis terpilih dengan waktu pengamatan antara 0,25-0,5 daur. Tahap ini bertujuan untuk menentukan variasi alamiah yang besar.
2.      Tahap pembatasan tempat asal benih (Restricted provenance phase)
Pada tahap ini diuji 3-5 tempat asal benih yang sudah menunjukkan harapan terbaik dari hasil pengujian tahap penyaringan, dengan waktu pengamatan sekitar 0,5 perkiraan daur. Tahap ini bertujuan untuk menemukan tempat asal benih suatu jenis terpilih yang paling produktif  pada tempat tumbuhnya yang baru.
3.      Tahap pembuktian tempat asal benih (Provenance proving phase)
Pada tahap ini hanya diuji 1-2 tempat asal benih, yang merupakan hasil pengujian pada tahap pembatasan dengan waktu pengamatan yang lebuh lama (satu daur). Tahap ini bertujuan untuk meyakinkan tempat asal benih yang paling produktif sebagai pembuktian dari tahap sebelumnya, dengan tindakan silvikultur yang bisa ditetapkan.
      Pada tahap penyaringan  dan pembatasan, uji coba menggunakan percobaan tertentu dan setiap tempat asal benih disusun dalam plot dari kumpulan beberapa pohon (25-49 pohon) berbentuk bujur sangkar. Sedangkan tahap pembuktian, dilaksanakan dengan rancangan percobaan yang sederhana, menggunakan plot dengan ukuran lebih besar terdiri dari 100 pohon atau lebih.

C.  SELEKSI
Seleksi sebagai proses dari peningkatan nilai, yang telah dilakukan orang lama sebelum prinsip-prinsip genetika dan pemuliaan diketahui dan dimengerti orang. Seleksi itu sendiri adalah proses dimana individu-individu dengan sifat-sifat tertentu lebih disukai untuk diperkembangbiakkan. Sifat-sifat yang biasanya diseleksi ialah : tinggi pohon yang unggul, diameter pohon yang unggul, daya lepas cabang yang baik, batang yang lurus (tidak bengkok atau melilit), percabangan yang ringan dan mendatar (pada konifera), tajuk yang sempit, padat dan berbentuk baik, tahan terhadap hama dan penyakit, tahan kekeringan dan mempunyai kwalitas kayu yang baik. Seleksi ini hanya akan effektif terhadap sifat-sifat yang dipengaruhi susunan genetik (sifat-sifat genetik) terutama sifat-sifat genetik yang additive, misalnya tinggi pohon, berat jenis, bentuk batang, dan lain-lain.
Seringkali seleksi harus dilakukan dalam tegakan hutan alam dan hutan tanaman pada keadaan lingkungan yang berbeda-beda, karenanya perlu di usahakan untuk mengurangi pengaruh keadaan lingkungan. Adapun caranya yaitu sebagai berikut :
a.     Pilihlah tegakan-tegakan yang terbaik dimana seleksi akan dilakukan, hal ini untuk mengurangi keragaman genotypa antar tegakan.
b.     Kalau mungkin, seleksi hanya dilakukan dalam tegakan-tegakan yang uniform dalam umur, jarak (spacing) dan keadaan tempat tumbuh.
Dalam hubungan ini seleksi lebih effisien dalam hutan tanaman dari pada dalam hutan alam.
c.     Kalau mungkin, pergunakan “cheek trees” (pohon-pohon pembanding) yaitu beberapa pohon yang baik di dalam tegakan sebagai pembanding terhadap pohon (pohon-pohon) plus. Dalam hutan tanaman, ini akan mudah dilakukan.
d.     Dalam melakukan seleksi, batasilah pada sifat-sifat yang terpenting saja. Jika seleksi menyangkut terlalu banyak sifat, hasilnya mungkin takkan ada, karena beberapa sifat (traits) mungkin berkolerasi negatif, kecuali jika dipergunakan suatu “selection index” dimana sifat-sifat di “weighted” terhadap nilai ekonomi, heritabilitas, dan lain-lain.

Konsep Dasar Heritabilitas
Nilai pengamatan terhadap sifat tertentu dari suatu individu yang dapat diukur, dinamakan nilai fenotipa individu itu. Nilai fenotipa dari suatu individu adalah hasil bersama dari pengaruh-pengaruh genotipa dan lingkungan.
Menurut Falconer (1967), nilai heritabilitas dari suatu sifat didefinisikan sebagai perbandingan antara ragam genetk aditif terhadap ragam fenotipa.


Tentang sifat-sifat yang diseleksi
Pada suatu jenis pohon yang penyebarannya luas perbedaan sifat di antara ekotipa-ekotipanya dapat mencapai 25-50% (Wright, 1962). Karena itu seleksi harus dimulai dengan ekotipa yang baik untuk mencegah kerugian waktu beberapa generasi. Menggunakan jenis phon yang tidak diketahui asal-usulnya (provenansi) dalam seleksi dan pemuliaan tidak dapat dibenarkan, antara lain karena ada kemungkinan bahwa jenis itu sudah hybrid dan keunggulan sifatnya disebabkan oleh overdominance, sehingga pengawinan (crossing) akan negatif hasilnya. Seleksi yang dilakukan dengan tepat dapat memberikan hasil genetis sebesar 3-10% tiap generasi (Wright, 1962). Kemajuan genetis dari seleksi tergantung pada susunan genetis (genetis make up, inheritance pattern) dan besar kecilnya keragaman genetik an lingkungannya. Beberapa sifat lebih kuat dipengaruhi oleh susunan genetik dari pada sifat lain. Misalnya, tumbuh tinggi lebih kuat dipengaruhi susunan genetik daripada tumbuh berdiameter ; bentuk batang lebih kuat dipengaruhinya dari pada tumbuh tinggi, dan sifat-sifat seperti kwalitas kayu dan waktu berbunga sangat dipengaruhi susunan genetik.
Keragaman genetik dapat terdiri dari keragaman yang additif dan yang non-additif. Keragaman additif disebabkan oleh effek-effek additif dari allel 2 pada suatu lokus terhadap nilai genotypik (dan nilai phenotypik). Misalnya allel A1 yang mempunyai nilai genetik 2 dan A2 yang mempunyai nilai genetik 2. Jika allel itu mempunyai  effek additif maka gabungan dari keduanya akan menghasilkan nilai genetik  4.
Keragaman non-additif disebabkan oleh dominansi dan epistasis sehingga allel itu tidak mempunyai effek additif misalnya, dengan contoh di atas, hasil gabungan A1 dan A2 adalah 3. Dalam hal ini hasil genetis tak dapat di duga (unprediotable).
Sifat-sifat yang mempunyai ragam additif yang besar akan memberikan response yang cepat pada seleksi dan pemuliaan. Masih banyak penelitian perlu diadakan untuk menetapkan besarnya ragam genetik additif ini untuk sifat-sifat yang ekonomis penting. Pada pinus taeda diketahui misalnya bahwa berat jenis kayu mempunyai ragam additif yang besar, bentuk batang sedang, dan riap volume hanya kecil saja.
v  Cara-cara seleksi
A.    Seleksi massa
Cara seleksi yang paling sederhana adalah seleksi massa (mass selection) yang di dasarkan atas penilian sifat-sifat phenotypic individual dari pohon-pohon di dalam suatu populasi. Cara seleksi paling sering dipergunakan pada tahap-tahap permulaan dari progam pemuliaan, dan juga pada aced production area untuk menetapkan pohon-pohon induk yang mempunyai sifat-sifat (phenotypik) yang unggul.
1)     Seleksi massa pada daerah  penghasil biji (seed production area).
Dari daerah penghasil biji dikumpulkan biji-biji dari induk-induk yang unggul, dan ditanam di hutan tanaman. Anakan semainya (seedlings) tidak dipisahkan menurut pohonnya. Jika siat yang bersangkutan mempunyai heritabilitas yang tinggi, hasil yang dicapai akan sama dengan hasil suatu program pemuliaan yang lebih sulit (Wrigth, 1962).
      Untuk menetapkan suatu daerah penghasil benih dipilih  suatu tegakan hutan alam atau tanaman yang paling baik. Dari tegakan ini dan jalur isolasinya, pohom-pohon yang paling buruk dibuang kira-kira 50-90% (Wright, 1962). Kekurangan suatu seed production area dari sudut seleksi dan pemuliaan adalah karena differensial seleksinya yang rendah, sehingga hasilnya semata-mata tergantung pada nilai heritabilitas sifat yang diseleksi.
2)     Seleksi massa pada program pemuliaan
Biji-biji dikumpulkan dari induk-induk sebagai penyerbukan bebas (openpollination) atua penyerbukan terkontrol (control pollination). Paa penyerbukan bebas, biji dikumpulkan dari induk-induk yang terseleksi lalu ditanam di kebun biji F1 , dijarangkan untuk mendapatkan pohon-pohon yang terbaik, lalu dikumpulkan untuk menanam generasi F2 (Wright, 1962). Seleksi diulangi terhadap generasi F2 tersebut. Beberapa kebun biji adalah hasil dari seleksi ini. Cara ini relatif murah dan tanaman generasi F1 itu dapat merupakan hutan tanaman biasa. Jika pekerjaan ini dilakukan secara besar besaran, asalkan sifat=sifat yang bersangkutan mempunyai heritabilitas dan differensial seleksi yang tinggi, kemajuan genetiknya akan besar. Untuk menetapkan kemajuan genetik tersebut perlu dilakukan uji keturunan.
Pada penyerbukan terkontrol, biji dikumpulkan sebagai perkawinan dari induk-induk jantan dan betina yang terseleksi, ditanam dalam kebun biji F1 , dijarangkan untuk mendapatkan pohon-pohon terbaik, lalu dikumpulkan biji untuk menanam generasi F2 secara besar-besaran (komersil) (Wright, 1962). Dalam program ini perlu diadakan uji keturunan. Kwalitas biji yang dihasilkan sudah tentu lebih baik dari cara terdahulu, tetapi biayanya lebih tinggi (Wright, 1962).

B.      Seleksi Famili
Pada seleksi massa, biji yang dikumpulkan dari pohon-pohon induk tidak dipisah-pisahkan menurut induknya masing-masing, tetapi pada seleksi famili ini biji dan anaknya dipisah-pisahkan menurut induk betinanya masing-masing, agar dapat menilai keadaan famili (keluarga) nya. Ada dua macam famili, yaitu famili halfsib (saudara tiri), jika keturunannya mempunyai satu induk betina yang sama, dan famili full-sib (saudara kandung), jika keturunannya berasal dari dua induk, jantan dan betina yang sama.
1.      Seleksi saudara tiri (famili half-sib)
·         Hasil penyerbukan bebas
Biji dikumpulkan dari induk (betina) yang terseleksi, dupisahkan biji dan anakannya menurut induk betina masing-masing, adakan uji keturunan pada generasi F1 , jarangkan untuk mendapatkan famili-famili atau individu-individu di dalam famili yang terbaik, kumpulkan biji untuk membuat tanaman generasi F2 secara besar-besaran (Wright, 1962). Seleksi diulangi dengan uji keturunan pada generasi F2 ini tanaman untuk uji keturunan dapat dijadikan kebun biji.
·         Hasil penyerbukan terkontrol dengan pollen mix
Pohon-pohon induk betina yang terseleksi dibuahi dengan cara penyerbukan terkontrol dengan pollen mix (campuran butir sari) berasal dari beberapa pohon induk jantan yang terseleksi.
Kumpulkan biji, pisahkan biji dan anakan menurut induk betina masing-masing dan adakan uji keturunan pada generasi F1 , jarangkan untuk mendapatkan famili terbaik atau individu terbaik dalam famili (Wright, 1962). Perbedaan cara ini dengan yang sebelumnya adalah mengganti penyerbukan angin oleh berbagai induk jantan yang tidak terseleksi dengan penyerbukan terkontrol dengan campuran butir sari dari induk-induk jantan yang terseleksi.
2.      Seleksi saudara kandung (famili full-sib)
Pohon-pohon induk betina yang terseleksi dibuahi secara penyerbukan terkontrol  dengan butir sari dari induk-induk jantan.

D.            UJI KETURUNAN (Progeny test)
Uji keturunan (progeny test) adalah cara untuk menduga susunan genetik suatu individu dengan meneliti sifat - sifat keturunarnya. Uji ini biasanya digunakan dalam program seleksi dan pemuliaan dan sangat berguna untuk sifat - sifat yang mempunyai heritabilitas rendah. Oleh sebab itu, uji ini dapat pula dianggap sebagai salali satu cara seleksi famili, bahkan suatu cara seleksi yang paling tepat.

Uji Keturunan Dalam Seleksi
Dalam uji keturunan ini kita memilih (menseleksi) induk yang memiliki nilai genetik atau nilai pemuliaan ("breeding value") yang tertinggi dengan menghitung daya gabung ("combining ability").
Ada dua macam daya gabung, yaitu :
1.   Daya gabung umurn (DGU), yang didasarkan atas keadaan (performance) keturunan dari hasil perkawinan satu induk de­ngan beberapa induk lain. Nilai DGU ini 1/2 dari nilai pemuliaan.
2.   Daya gabung spesifik (DGS), yang didasarkan pada keadaan keturunan dari hasil perkawinan dua induk.

Nilai rata-rata satu keturunan ("progeny value") yang dinyatakan dengan penyimpangan (deviasi) dari nilai-nilai rata-rata keturunan dari semua perkawinan adalah :
MXy = DGUX + DGUy + DGSXy
Dimana DGUx = daya gabung umum dari klon x (1/2 dari nilai pemuliaan klon itu)
DGUy = daya gabung umum dari klon y
DGSXy=daya gabung spesifik dari perkawinan antara klon x dengan klon y.

Suatu induk dikatakan mempunyal daya gabung umum yang baik apabila hasil perkawinannya dengan sejumlah induk lainnya memberikan nilai rata-rata yang mendekati nilai rata-rata keseluruhan perkawinan yang dilakukan. Sedangkan suatu induk dikatakan mempunyai daya gabung spesifik yang baik apabila dalam suatu pasangan perkawinan memberikan nilai yang jauh lebih baik dari rata-rata keseluruhan perkawinan, dengan kata lain bahwa daya gabung spesifik memperlihatkan keselektivitasan suatu induk bila disilangkan dengan induk yang lain.

Rancangan perkawinan
Untuk penetapan daya gabung dan nilai permuliaan itu ada beberapa cara mengawinkan atau rancangan perkawinan (mating design), yaitu :
a.     Partial Diallel
Pada partial Diallel design perkawinan (mating) yang di­buat tidak dengan setiap klon yang ada di dalam kebin biji, melainkan misalnya dengan setengahnya dari yang ada. Contohnya seperti tertera pada bagian di bawah ini dimana ada 10 klon, dengan lima perkawinan per klon. Pada rancangnn perkawinan ini tak ada pertukaran perkawinan (reciprocal cross) dan perkawinan sendiri (selfed cross).
b.  Tester (factorial) design (N.C. State Design II)
Rancangan ini digunakan dalam program pemuliaan dari cooperative Tree Improvement programs di North Carolina. Pada rancangan ini beberapa klon dalam kebun uji ditetapkan se­bagai toster (penguji) dan dikawinkan dengan klon-klon lain didalam kebun biji.
Dari rancangan ini akan diperoleh informasi tentang DGU dan nilai pemuliaan dari klon-klon didalam kebun dan DGS dari beborapa klon. Cara ini yang dianggap paling flexsible diantara control pollination designs dalam uji keturunan.
c.   Polymix (pollen mix) design
Pada rancangan ini semua klon di dalam kebun dibuahi secara terkontrol (control crossing) dengan campuran tertentu dari pollen (butir - butir sari). Untuk membuat pollen mix tersebut diperlukan pengumpulan pollen dari sedikit-dikitnya 10 pohon induk. Dari rancangan ini akan didapat informasi mengenai DGU dan nilai pemuliaan saja.
d.     Open - pellinated mating design
Dalam rancangan ini dikumpulkan buah-buah dari klon-klon yang telah mengalami penyerbukan bebas oleh klon-klon lain di dalam kebun. Rancangan ini baru dapat digunakan dalam kebun yang sudah cukup tua (sudah dapat menghansilkan biji dalam jumlah besar) untuk mencegah bias, karena non-random pollination. Dari rancangan  ini diperoleh informasi tentang nilai pemuliaan , asalkan non-random pollination dapat dicegah.

Daerah Uji (test area) dan rancangan percobaan
Yang dimaksud dengan daerah Uji disini adalah_lapangan dimana uji_ keturunan diadakan. Untuk dapat mengevaluasi per­bedaan genetik antara family-famili dengan tepat, pengaruh lingkungan dalam daerah uji harus terkontrol dan diusahakan supaya konstan untuk semua famili yang sedang diuji. Pelaksanaannya tidaklah mudah, karena uji keturunan harus dilakukan di lapangan (test area) yang keadaannya sama dengan lapangan dimana anakan pohon yang berasal dari kebun biji akan dita­nam secara besar - besaran sebagai hutan tanaman.
Untuk dapat mengurangi “environmental error" dalam uji keturunan ini, daerah uji harus diusahakan se-uniform mungkin dalam topografi, kesuburan tanah, dan pengolahan tanah.
Pada Lapangan yang telah dipilih sebagai daerah uji envi­ronmental error dalam uji keturunan dapat dikurangi dengan :
1)  Menggunakan petak - petak famili yang kecil yang diatur dalam jajar - jajar (row)
2)  Mengacak petak - petak famili di dalam blok atau r eplikasi, jadi menggunakan randomized complete block design.
3)  Mengadakan replikasi secukupnya, dengan mengusahakan agar semua petak dalam replikasi terdapat dalam tempat yang uniform
4)  Mengatur petak - petak di dalam replikasi sedemikian hingga semua variabilitas tempat tumbuh dapat di sample.

Menurut pengalaman, petak-petak yang panjang dan sempit dan membujur ke arah variasi tempat tumbuh yang terbesar (misalnya menaik atau menurun lereng) dapat mengatasi seba­gian besar pengaruh - pengaruh variabilitas lingkungan. Banyaknya replikasi tergantung pada variabilitas tanah tingkat ketelitian yang dikehendaki, dan persediaan bahan tanaman (bi ji) . Biasanya 5 atau 6 replikasi dianggap cukup untuk berbagai jenis tanaman.
Replikasi dari seluruh progeny test dalam waktu dan ruang sering kali perlu, misalnya 6 replikasi dalam ruang dan 3 replikasi dalam waktu. Dengan demikian kita dapat mengukur keadaan keturunan pada keadaan tanah dan iklim yang berlainan.
Ini penting untuk pohon - pohon kehutanan karena anakan yang berasal dari kebun biji akan ditanam di lapangan dengan keadaan tanah dan iklim yang berbeda. Replikasi da­lam waktupun penting mengingat kemungkinan keragaman oleh kekeringan dan infestasi penyakit.













BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1     Lokasi dan Waktu Praktikum
v   Lokasi  praktikum pemuliaan pohon dilaksanakan di PT. Surya Hutani Jaya kecamatan  Sebulu.
v   Waktu praktikum dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2010, dengan rincian waktu sebagai berikut:
·         Berkumpul dan berangkat dari kampus         pukul 07.40 Wita
·         Sampai di PT. SHJ pukul 10.10 Wita.
·         Mendengarkan presentasi tentang PT. SHJ pukul 10.20 Wita.
·         ISHOMA pukul 12.00 – 13.30 Wita.
·         Melihat kawasan pemuliaan pohon di PT.SHJ pukul 13.30-16.00 Wita.
·         Kembali ke base camp PT. SHJ pukul 16.15 Wita.
·         Pulang dan sampai di kampus pukul 16.30 - 19.00 Wita.

3.2   Alat dan Bahan
·      Alat tulis dan bahan : pulpen, dan buku tulis.
·      Alat domentasi : kamera digital, atau kamera hp.




3.3   Prosedur Praktikum
·        Mendengarkan penjelasan singkat tentang latar belakang berdirinya PT SHJ.
·        Mencatat hal hal penting tentang proses pemuliaan pohon yang dilakukan PT SHJ.
·        Berkeliling melihat hasil dari pemuliaan pohon serta mendengarkan penjelasan singkat dari pemandu PT SHJ.
·        Mencatat point point penting pada lokasi konsevasi gen-eksitu, 2 lokasi uji progeny test dan persemaian bibit eucalyptus pellita.
·        Mengambil foto foto yang penting sebagai bahan dokumentasi.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Acacia mangium Willd
Di persemaian yang di miliki oleh PT Surya Hutani Jaya di semaikan beberapa jenis seperti Akasia (Acacia  mangium) sebagai tanaman produksi pokok. Pada persemaian Akasia media yang digunakan adalah  campuran akar paku dengan sekam padi dengan perbandingan 80 : 20, sebelum dicampur dengan sekam padi media akar paku tersebut terlebih dahulu dicincang secara manual baru kemudian dicampur dengan sekam padi lalu campuran tersebut dimasukan kedalam single tube yang berukuran 80 mm sambil dipadatkan. Setelah media siap saji barulah biji Akasia mulai ditanam dalam single tube dengan 2 atau 3 biji. Lalu di pindahkan ke shadow area dengan penyinaran 70%.

B.    Eucaliyptus pellita
Selain Akasia PT. Surya Hutani Jaya juga memproduksi jenis lain yaitu Ekaliptus (Eucalyptus pellita), perlakuan pada ekaliptus tidak sama dengan yang dilakukan pada akasia, perbandingan media tanam yang digunakan adalah 80;20, yang ditanam dalam single tube adalah kecambahnya bukan biji, kecambah tersebut dikembangkan dimedia perkecambahan yang terdiri dari pasir dibawah sungkup plastik transparan, selain itu juga berasal dari kebun pangkas.
Ecalyptus pellita tumbuh baik pada tanah Inseptisol dan ultisaol yang terdapat banyak pasir dan lempung. Penyakit yang banyak menyerang pada persemaian ini adalah leaf blight (daun yang membusuk dalam semalam), Necroses, busuk akar, dan penggerek batang. Ekaliptus biasanya digunakan untuk membuat paper dan tanaman ini merespon baik pada pupuk N, P, K.

C.  Provenancy Test
            Provenansi adalah daerah sumber asal benih atau biji yang menyebar secara alami. Perbedaan provenansi sangat menentukan mutu benih yang akan dikembangbiakan sebab keaadaan geografis, iklim, serta tapak yang berbeda. Penanaman dengan jenis dan ras yang tidak tepat akibatnya akan selalu mengecewakan, antaralain sebagai berikut :
a)    Yang nyata, kerusakan karena tidak sesuai tempat tumbuh,
b)    Yang tidak nyata dan sangat berbahaya jika permulaan tumbuh baik, tapi lama kelamaan mundur dan tidak produktif lagi,
c)    Jenis – jenis yang tidak sesuai seringkali peka terhadap hama dan penyakit sehingga merugikan bila tegakan yang sudah masa tebang mendapatkan banyak kerusakan,
d)    Pada tempat tumbuh yang tidak sesuai, kualitas kayu sering kali berubah.


v Pada Stop 1 “Konservasi gen-eksitu Eucalyptus pellita”
Tegakan ini adalah tegakan Eucalyptus pellita yang pertama ditanam di PT. SHJ, tegakan yang digunakan berasal dari hasil eksplorasi alam yang tidak merata, sehingga hanya di peroleh 5 pohon induk yang dapat dikumpulkan benihnya dan hasil pencampuran benih dari 5 pohon tersebut ditanam seluas 25 ha.
Tegakan ini sekarang digunakan sebagai tempat pengumpulan kelestarian gen dan menjadi sarana untuk program pelatihan karyawan PT. SHJ, misalnya pelatihan pemetaan, pengukuran pohon, breeding (seleksi pohon), pemanenan benih dan sebagainnya. Bahkan mahasiswa dari kehutanan unmul juga sering melakukan praktek kerja dan studi lapangan. Pada saat awal tegakan di tanam tahun 1992 menggunakan jarak tanam 3 x 2 m (1666 pohon/ha), tetapi pada umur 4 tahun dilakukan penjarangan sampai populasi 800 pohon/ha dan pada umur 6 tahun dijarangi lagi menjadi 400 pohon/ha.

v Pada Stop 2 “Progeny Test Eucalyptus pellita dengan Half sib”
Bila terdapat 1 pohon plus yang diambil benihnya kemudian dibuat progeny. Dilakukan uji kemampuan dari induknya yang menghasilkan keturunan yang paling baik tetapi bukan dari keturunannya yang di uji, tetapi dinilai berdasarkan keturunananya. Kemudian menjadi kebun benih yang sudah teruji menurunkan sifatnya kepada keturunananya dimana dalam pemuliaan disebut sebagai heritability yang nilainya 0-1 dalam bentuk 1 berarti 100%.
Half sib dilihat darimana pohon plus yang di jagokan  berasal dari papua memberikan keturunan yang bagus dimana 1 induk betina menurunkan 1 seet lot 1 unggulan yang bagus.1 induk menghasilkan jutaan pohon dimana 1 kapsul berisi 8-10. Dari sekian banyak bibit yang ditanam akan ada satu pohon terbaik. Dari satu induk akan terlihat perbedaan dari hasil keturunan tersebut terdapat pohon yang berukuran besar dan juga yang berukuran kecil.

v Pada Stop 3 “Progeny Test Eucalyptus pellita dengan full sib”
Di full sib itu sendiri diketahui dua induknya dengan mengendalikan kontrol pollination atau dengan perkawinan silang secara terkendali yang dilakukan oleh manusia maka akan di hasilkan full sib, tetapi di hutan alam tidak akan mungkin terjadi full sib karena siapa yang mengatur perkawinan antara pohon 1 dengan pohon lainnya, tetapi pada Eucalyptus pellita memiliki bunga jantan dan betina yang terdapat pada 1 kapsul jadi pohon tersebut dapat kawin sendiri, dimana memungkinkan 1 kapsul terdapat 1 putik dan 1 benang sari yang bisa mengawinkan di dalam kapsul sendiri, full sib dilakukan dalam kurun waktu yang sangat panjang. Lanjutan dari 1 pohon plus kemudian di uji keunggulan masing-masing pohon plus ada keunggulan dari sifat kayunya, ada keunggulan pertumbuhannya dan keunggulan pertahananya terhadap serangan pernyakit, kemudian itu dikawin silangkan antara pohon plus tesebut secara manual yang dilakukan manusia dengan cara pohon plus yang ada di hutan dipanjat dan diambil cabangya kemudian diokulasi kemudian dirangsang pembungaanya dengan bahan kimia (PKZ) pohon tersebut agar bungannya seperti pohon buah buahan yang pendek pendek seperti pohon mangga dan lainnya, kemudian di rangsang keluar bungannya, kemudian dari tiap pohon kita kawin silangkan, dimana semua dikawin silangkan (full cross) tetapi hanya 49 pohon yang dapat menghasilkan biji, jadi bila kita berhasil mengawinkan belum tettu dapat menghasilkan biji, dari kita mengawinkan hingga mengahasilkan biji dibutuhkan waktu sampai 6 bulan, kemudian mengambil propagul dari pohon plus hingga siap berbunga membutuhkan waktu 2 tahun, jadi pohon plus di tambah 2 tahun hingga melakukan kawin silang sekitar 3 tahun sampai dapat menghasilkan bijinya, dan 49 biji tersebut yang di uji pada lokasi ke 3 full sib.

v Stop 4 “NURSERY Eucalyptus pellita
Persemaian adalah kegiatan mengecambahkan benih di atas bedeng semai. Kawasan pesemaian di PT. Surya Hutani Jaya memiliki kapasitas sekitar 20.000 ha/tahun. Adapun luas areal persemaian yaitu sekitar ± 10 ha.
Kultur jaringan dilakukan selama 3-4 minggu dan menyesuaikan iklim yang diambil dari perusahaan sejenis di Riau. Kultur jaringan itu sendiri disesuaikan dengan iklim yakni selama 2 bulan, 1 bulan dalam lokasi terlindung/tertutup dan 1 bulan lainnya pada lokasi yang terbuka, digunakan serabut kelapa yang diseterilkan ditambah akar pakis dengan perbandingan 30 : 70 sebagai substrat untuk memperoleh pembibitan dengan ukuran yang sesuai untuk tanaman semai. Adapun media untuk tanaman semai yang digunakan yaitu campuran dari pasir dan batu kerikil dengan perbandingan 20 : 80. Tanaman semai ditanam dengan luas 10 x 12 cm,dengan komposisi 80 tanaman semai per m2. Benih pertama yang dihasilkan dalam 1 bulan setelah penanaman di media pasir dan menunggu tunas untuk tumbuh. Tunas yang dipotong dapat dipanen 1 bulan setelah benih pertama dan tingkat produktivitas dari tamanan semai adalah 6 tunas/tanaman semai/bulan setelah tanaman semai berumur 3 bulan pada media pasir.










BAB V
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
Uji coba tempat asal benih (Provenances trial) merupakan percobaan tentang penanaman suatu jenis dengan menggunakan benih-benih yang dikumpulkan dari sejumlah tegakan yang tersebar luas, kemudian semai-semai ditanam pada kondisi tempat tumbuh yang sama dengan menggunakan rancangan percobaan tertentu.
Penggunaan benih dari tempat asal yang geografik dan ekologik yang tepat merupakan syarat utama bagi keberhasilan usaha penanaman.
Dalam uji keturunan (progeny test) suatu induk dikatakan mempunyal daya gabung umum yang baik apabila hasil perkawinannya dengan sejumlah induk lainnya memberikan nilai rata-rata yang mendekati nilai rata-rata keseluruhan perkawinan yang dilakukan. Sedangkan suatu induk dikatakan mempunyai daya gabung spesifik yang baik apabila dalam suatu pasangan perkawinan memberikan nilai yang jauh lebih baik dari rata-rata keseluruhan perkawinan, dengan kata lain bahwa daya gabung spesifik memperlihatkan keselektivitasan suatu induk bila disilangkan dengan induk yang lain.


5.2   Saran
1)        Sebelum melakukan kunjungan ke perusahaan atau melakukan praktikum sebaiknya mahasiswa terlebih dahulu banyak membaca teori-teori secara garis besar tentang pemuliaan agar tidak canggung pada saat dilapangan.
2)        Dalam melakukan praktikum kelapangan, sebaiknya mahasiswa praktikan memperhatikan penjelasan dari pembimbing perusahaan dalam menjelaskan di lapangan maupun di dalam ruangan.
3)        Dalam melakukan praktikum di lapangan, sebaiknya praktikan mencatat penjelasan dari pembimbing perusahaan dan bertanya jika ada yang tidak di mengerti.













DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 1982. Program Pemuliaan Pohon Hutan. Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Kehutanan. Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi, NO.C2., Jakarta.

Anonim, 1987. Pedoman Penyelenggaraan Uji Coba Jenis. Departemen Kehutanan, Direktorat Jendral Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Reb.07;13.1. Jakarta.

Oemi Hani’in et all. 1979. Pemikiran Penyusunan Program Pemuliaan Pohon Hutan secara Nasional. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.






















LAMPIRAN














     




      






      




         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar